Ibu Full-time atau Ibu Karir?

Zaman sekarang yang namanya ibu itu tidak cukup disebut sekedar ibu, banyak embel-embel tambahan yang melekat pada peranan mereka. Dua yang paling sering saya dengar, Ibu Rumah Tangga (sering juga disebut Ibu full time) dan Ibu Karir. Kalau boleh saya definisikan sejauh pengertian saya,

Ibu Rumah Tangga atau Ibu full time adalah istilah untuk seorang ibu yang sehari-harinya mengurus anak dan rumah tangga, dan biasanya tidak melakukan pekerjaan berbayar di luar rumahnya.

Ibu Karir adalah istilah untuk seorang ibu yang sehari-harinya melakukan pekerjaan yang menghasilkan upah, biasanya di luar rumah.

Jujur saya masih gagal paham bagaimana maksudnya Ibu Rumah Tangga dianggap tidak bekerja dan Ibu Karir dianggap bukan ibu secara full time, tapi ya sudahlah, memang istilah sering kurang sempurna dalam membawakan maknanya masing-masing.

Dalam pencarian saya pribadi, saya belum menemukan model ibu yang sempurna. Tidak ada satu modelpun yang cukup sempurna untuk memenuhi besar dan dalamnya panggilan menjadi seorang ibu. Bukan label ataupun model yang mendikte arti seorang ibu. Karena sejatinya arti seorang ibu terletak di dalam cinta dan pengorbanannya dalam memenuhi kebutuhan mereka yang dipercayakan dalam perawatannya.

Almarhumah nenek saya dari pihak ayah, ibu dari delapan bersaudara, beliau mengusahakan toko roti untuk menafkahi keluarga setelah kakek saya almarhum ketika anak mereka yang paling kecil belum genap berusia sebulan. Seorang wanita yang gigih, beliau berhasil membesarkan kedelapan anaknya seorang diri, beliau seorang wanita inspirasional yang dicintai dan dikagumi para cucunya.

Ambil sebagai contoh, berdasarkan pengamatan saya dalam kelompok masyarakat sekitar (umumnya kelompok masyarakat menengah di Singapura dan Indonesia), peran dan tugas utama para ibu adalah sebagai berikut:

1.  Memenuhi kebutuhan anak-anaknya
Urusan pangan, sandang dan pendidikan anak sehari-hari biasanya menjadi prioritas dan hal yang ditangani langsung oleh ibu. Ibu yang merawat, mengurus dan mendidik sebagai pribadi yang lembut dan mengayomi. Bukan tanpa alasan seorang ibu adalah orang pertama yang dicari anaknya kala kesusahan.

2. Memenuhi kebutuhan suaminya
Seorang ibu adalah terlebih dahulu seorang istri. Sebagai mitra terbaik dan pilar dukungan utama bagi suaminya, ia memastikan suaminya terawat aspek fisik dan psikologisnya, baik itu dalam hal makanan, pakaian hingga persahabatan dan keintiman. Ia mengambil alih urusan rumah sehingga suaminya bisa maksimal di dalam urusan pekerjaan. Ini tentu bukan berarti seorang suami tidak perlu membantu dalam urusan rumah, justru istri yang baik melakukan tugasnya dengan tujuan membantu suaminya sebisa mungkin tanpa menghitung-hitung seberapa adil pembagian tugas rumah antara mereka berdua, dan sebaliknya suami yang tahu diri menunjukkan kepeduliannya dengan membantu istrinya dalam urusan pekerjaan rumah dan mengurus anak secara sukarela.

3. Memenuhi kebutuhan orangtuanya
Dalam masyarakat tanpa fasilitas negara yang memberikan bantuan sosial memadai bagi penduduk lansia, juga dimana asuransi belum memadai ataupun terjangkau, para orangtua bergantung banyak kepada anak untuk jaminan hari tua. Khususnya di Indonesia saat ini, jaminan pensiun orangtua sering adalah anak-anaknya sendiri. Seorang ibu juga adalah seorang anak bagi orangtuanya sendiri. Ia menanggung hutang bakti kepada orangtuanya, yang sering diekspresikan dalam bentuk dukungan finansial bagi mereka di masa tua. Berbeda dengan negara-negara Barat, adalah hal yang lumrah bagi para orangtua di Indonesia untuk menyekolahkan anak sampai ke jenjang perguruan tinggi dengan uang mereka sendiri, banyak yang bahkan sampai menjual lahan. Sehingga lumrah juga bila setelah lulus, anak-anak mereka ingin mencapai karir yang sukses sebagai bentuk bakti yang memberikan rasa bangga bagi orangtua dan sebagai upah jerih payah orangtua.

4. Mengatur rumah
Sebagai nyonya rumah, ibulah yang bertanggung jawab untuk menjadikan rumahnya tempat yang aman dan nyaman bagi keluarganya, yang juga boleh dirasakan oleh tamu yang berkunjung. Juga berbeda dengan negara-negara Barat dimana jasa asisten rumah tangga ataupun suster anak sangatlah mahal, para ibu di Indonesia dan Singapura bisa dibantu oleh jasa asisten rumah tangga dengan harga yang relatif terjangkau dalam menjalankan tugasnya yang satu ini.

Almarhumah nenek saya dari pihak ibu, ibu dari tujuh bersaudara. Beliau seorang ibu rumah tangga yang turut membantu penghasilan keluarga yang saat itu miskin dengan cara menjahit. Beliau seorang wanita yang mendedikasikan seluruh hidup untuk keluarga, anak-anak dan bahkan cucu-cucunya.

Tugas-tugas di atas tentu tidak mudah dan tidak sederhana. Agar para ibu bisa menjalankan fungsinya secara efisien dan efektif, mereka perlu diberikan kebebasan yang luas baik dalam memilih peran maupun dalam pemanfaatan kesempatan. Mereka harus bebas menentukan bahwa adalah yang terbaik untuk tinggal di rumah sepanjang hari mengurus anak hari ini, tapi juga tidak dihakimi ketika mereka perlu turut mencari nafkah di luar rumah di hari lainnya. Ketika semua itu menjadi pilihan yang perlu untuk kelangsungan rumah dan keluarganya, maka semua dilakukan dengan mempertimbangkan kepentingan terbaik bagi keluarganya.

Banyak yang bertanya, masak melulu untuk keluarga sih? Emangnya wanita tidak berhak hidup untuk dirinya sendiri, mengejar mimpi dan ambisinya sendiri?

Tentu saja berhak. Tapi saya lebih percaya cara terbaik untuk menghidupi hidup itu bukan dengan cara hidup demi diri, tapi hidup memberikan arti dan manfaat bagi hidup orang lain, seringkali dengan merelakan hidup kita sendiri. Dan bahwa ambisi yang memberi kepuasan tertinggi adalah dengan memaksimalkan potensi diri demi pemberdayaan dan kebaikan orang lain, dimulai dari orang terdekat kita, keluarga kita sendiri. Saya rasa ini yang sudah para ibu lakukan sejak mereka menahan mual-mual trimester pertama, demi hidup baru yang mereka bawa.

Ibu saya, seorang wanita hebat yang selalu bekerja keras bersama ayah untuk membesarkan dan mencukupkan kebutuhan kami bertiga. Kami ada seperti hari ini berkat kerja keras dan pengorbanan beliau.

Ibu mertua saya, beliau seorang wanita yang piawai mengatur rumah tangganya dan yang mendedikasikan hidupnya untuk suami dan kedua putranya.

Banyak cara pandang dunia yang berusaha mengadu domba para ibu dan mendatangkan rasa bersalah yang palsu kepada ibu rumah tangga maupun ibu karir. Kalau kita termakan, lantas mencari kebanggaan sebagai ibu yang satu dengan cara mencela pilihan ibu yang lain, maka ujung-ujungnya yang terbengkalai juga adalah kebahagiaan keluarga, yang akhirnya akan berimbas jelek ke pembangunan masyarakat yang sehat.

Sesungguhnya semua yang berhak menerima sebutan “Ibu” adalah mereka yang memiliki hati yang sama, hati yang penuh dengan cinta dan kesiapan untuk berkorban bagi mereka yang ditempatkan dalam pelukannya. Baik ia berseragam kantor, ataupun berdaster.

Di akhir tulisan ini, untuk menghargai jasa mulia semua ibu, saya sertakan lirik lagu anak-anak Indonesia “Kasih Ibu Sepanjang Masa” karangan SM Mochtar, yang dengan tepat sekali menggambarkan mulianya arti seorang ibu;

Kasih Ibu kepada beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi
Tak harap kembali
Bagai Sang Surya
Menyinari dunia

Selamat Hari Ibu!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s